Di ujung selatan pusat kota Ubud, terdapat sepetak hutan yang terasa lebih tua daripada kota yang mengelilinginya. Pohon-pohon tinggi meliuk di atas patung-patung batu berlumut. Candi-candi kuno mengintip dari balik kanopi hijau. Dan di mana pun Anda memandang, kera ekor panjang bergerak dengan percaya diri, seolah-olah merekalah pemilik tempat tersebut.
Tempat ini adalah Suaka Mandala Suci Wenara Wana atau yang lebih dikenal dengan Sacred Monkey Forest Sanctuary—sebuah kawasan konservasi seluas 12,5 hektare yang telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual dan budaya Ubud sejak abad ke-14.
Hutan yang Lebih Tua dari Indonesia
Cerita lokal dan catatan sejarah menelusuri asal-usul Monkey Forest hingga masa pendirian Desa Padangtegal pada abad ke-14. Masyarakat setempat menganggap hutan ini suci dan percaya bahwa tempat tersebut dihuni oleh roh-roh baik dan para dewa.
Kera ekor panjang yang hidup di sini—saat ini berjumlah lebih dari 1.260 ekor—dipandang lebih sekadar satwa liar. Dalam agama Hindu Bali, kera berkaitan erat dengan Hanuman, sosok dewa kera yang agung, serta dihormati sebagai hewan suci yang melambangkan perlindungan sekaligus sifat jahil.
Tiga pura Hindu berdiri di dalam kawasan suaka ini, yang ketiganya berasal dari abad ke-14:
Pura Dalem Agung Padangtegal
Pura Beji
Pura Prajapati
Bersama dengan hutan dan kera-kera di dalamnya, pura-pura ini membentuk warisan budaya dan spiritual yang hidup, bukan sekadar objek wisata semata.
Dari Hutan Perburuan Kerajaan Menjadi Suaka Perlindungan
Beberapa kisah menyebutkan bahwa area ini dulunya merupakan kawasan perburuan kerajaan pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Jaya Pangus pada abad ke-11, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai hutan suci yang dilindungi melalui dekret kerajaan. Seiring waktu dan berkembangnya Ubud menjadi pusat kesenian dan kebudayaan, hutan ini tetap bertahan—menjadi jantung hijau bernuansa spiritual di tengah kota yang terus berubah.
Pada tahun 1982, masyarakat lokal secara resmi menetapkan kawasan ini sebagai Sacred Monkey Forest Sanctuary dan memulai upaya konservasi terorganisasi, termasuk memperluas area hutan pada tahun 1990-an untuk menampung populasi kera yang terus bertambah.
Saat ini, kawasan suaka ini dikelola oleh Desa Adat Padangtegal dan memegang peranan penting dalam:
Melestarikan warisan Hindu Bali melalui ritual-ritual keagamaan di pura.
Menjaga keanekaragaman hayati, dengan rumah bagi lebih dari 115 spesies pohon dan tanaman.
Mengedukasi masyarakat lokal dan wisatawan mengenai konservasi satwa liar.
Hidup di Samping Suaka Suci
Bagi orang-orang yang tinggal di gang-gang sekitar Padangtegal dan pusat Ubud, Monkey Forest adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada pagi hari sebelum wisatawan pertama datang, suara sahut-sahutan kera dapat terdengar dari atas pohon.
Pemangku (pemimpin ritual) dan warga lokal tetap melangsungkan upacara di pura-pura tersebut, menjaga fungsi spiritual tempat ini tetap hidup.
Para penghuni sudah hapal aturan mainnya: tidak membawa makanan ke kawasan hutan, tidak mencolok dalam memperlihatkan tas atau benda berkilau, serta menghormati kera sebagai makhluk suci, bukan sekadar properti foto.
Wisatawan melihat Monkey Forest sebagai salah satu daftar tempat yang wajib dikunjungi di Ubud. Namun bagi warga lokal dan penghuni jangka panjang, tempat ini adalah landmark lingkungan—sebuah titik temu antara kebudayaan, alam, dan kehidupan sehari-hari.
Sebuah Pengingat akan Keseimbangan
Monkey Forest dibangun di atas landasan filosofi Hindu Bali, Tri Hita Karana: keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Konsep tersebut bukan sekadar jargon untuk wisatawan, melainkan pedoman hidup masyarakat di sekitar suaka ini.
Bagi para pemilik vila dan penghuni jangka panjang di Ubud, kisah Monkey Forest hadir sebagai sebuah pengingat: Anda tidak sekadar membeli properti di kota yang indah. Anda melangkah ke dalam sebuah lanskap tempat pura, hutan, dan masyarakatnya telah hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad—dan tempat di mana para kera, dengan segala tingkah lucunya, selalu merasa berada di rumah sendiri.
DreamRue Property, Agustus 2026
